Sikap Kita Terhadap Perselisihan Muawiyah dengan Para Sahabat merupakan ceramah agama dan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh: Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra, M.A. dalam pembahasan Faedah-Faedah Sejarah Islam. Kajian ini disampaikan pada 8 Rabbi’ul Awwal 1440 H / 16 November 2018 M.

Para ulama menjadikan Muawiyah sebagai standar bagi seorang ahlus sunnah. Maksudnya adalah bahwa Muawiyah adalah semacam tirai yang menutup kehormatan para sahabat. Barang siapa berani mencela Muawiyah, maka sungguh orang itu akan mudah untuk mencela sahabat yang lain. Oleh sebab itu banyak ungkapan dari ulama kita yang menjelaskan tentang kemuliaan dan wajibnya kita menahan diri dari pada perkara-perkara yang diperselisihkan oleh para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Abdullah bin Mubarak, salah seorang tabi’in mengatakan, “Muawiyah bagi kami adalah sebagai standar ujian. Barang siapa yang melihat kepada Muawiyah dengan kebencian, kekesalan, kemarahan dan kedengkian, maka kami menganggap bahwa dia adalah orang-orang yang membenci para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Jadi Muawiyah adalah standar bagi seseorang dalam pandangan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana diungkapkan oleh Abullah bin Mubarak ini.

Diungkapkan pula oleh Imam an-Nasa’i, beliau ditanya tentang Muawiyah, “Pintu Islam itu adalah para sahabat. Barangsiapa yang mencela, menghina, memusuhi para sahabat, maka sesungguhnya dia ingin merusak Islam.” Artinya kalau sudah dikatakan sesat, kafir dan segala macamnya, hakikatnya mereka akan mengatakan Islam sudah dirombak oleh para sahabat. Inilah kenyataan yang terbukti dari pemahaman orang-orang Syiah Rafidhah. Lalu Imam an-Nasa’i mengungkapkan ucapannya, “Orang yang ingin mencela Muawiyah, pada hakikatnya ingin mencela sahabat yang lainnya.”

Maka oleh sebab itu penting bagi kita membahas berbagai sisi dari Muawiyah ini. Dan diakhir nanti kita akan menjawab syubhat atau tuduhan-tuduhan kepada Muawiyah. Disinilah kita harus mengerti tentang bagaimana pandangan ulama kita dalam menyikapi para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah sahabat Nabi yang mungkin punya salah. Tapi dalam menyikapi kesalahan mereka, kita harus adil, kita harus hormat, tidak menghina, tidak memaki, bahkan kesalahan-kesalahan mereka itu adalah berangkat dari keikhlasan mereka dalam beragama, ketinggian ilmu mereka, inginnya mereka menyuarakan kebenaran, cintanya mereka kepada kebenaran. Semuanya berangkat dari ijtihad. Karena mereka semua ahlul ijtihad.

Banyak ungkapan-uangkapan para ulama tentang bagaimana menjaga kehormatan Muawiyah. Dan kita perlu menjawab tuduhan-tuduhan miring yang ditujukan kepada Muawiyah agar kita tahu hakikat dari Muawiyah ini dan bagaimana kemuliaan beliau.

Dan disinilah pentingnya kita belajar dan mendengar nasihat para ulama kita agar kita selamat dari pemahaman-pemahaman yang membawa kepada kerusakan iman, kerusakan pandangan kita kepada para sahabat. Sehingga kita bisa mengerti tentang sejarah Islam yang sebenarnya.

Kenyataan pada hari-hari ini, ditengah-tengah umat terdapat orang-orang yang melecehkan para sahabat. Yang nyata ada dua kelompok Syiah Rafidhah, kemudian ada juga kelompok yang hakikatnya ingin merusak Islam juga. Yaitu kelompok orang-orang liberal. Dimana mereka ketika menilai para sahabat adalah jauh dari pandangan ahlussunnah wal jama’ah. Karena memang jika kita lihat sumber-sumber yang mereka pegang didalam mereka berbicara tentang sejarah Islam, mereka memakai kacamata orientalis. Tulisan-tulisan orang orientalis tentang paara sahabat sengaja mengutip hal-hal yang aneh-aneh atau dalam bahasa agamanya adalah riwayat-riwayat dhoif, perkataan yang sumbing, perkataan yang aneh, itu sengaja mereka ekspos. Karena tujuan mereka ingin mengatakan bahwa Islam sudah tidak murni lagi, Islam sudah terjadi bergini dan begitu.

Oleh karena itu tidak asing jika orang-orang yang belajar ke Eropa, ke Barat, ke Amerika, ke Australia tentang Islam, mereka pulang dengan pemikiran-pemikiran yang aneh dan dalam memahami Islam tidak merujuk kepada pemahaman para sahabat. Karena memang guru-gurunya mengajarkan dengan referensi kitab-kitab orientalis.

Maka kita harus banyak menggali informasi dan menjawab syubhat-syubhat itu. Tentu sebelumnya kita harus jelaskan dulu penjelasan versi ulama ahlussunnah wal jama’ah yang mereka jujur dalam membahas masalah. Mereka jauh dari bentuk kedzaliman dalam membahas sejarah Islam.

Salah satu contoh nasihat dari Imam Ahmad ketika ditanya tentang kejadian antara Ali dengan Muawiyah. Imam Ahmad tidak mengungkapkan kecuali kebaikan untuk keduanya. Tidak mengatakan ini salah, itu salah. Pada kesempatan yang lain, Imam Ahmad berpaling dan tidak mau menjawab ketika ditanya dengan pertanyaan yang serupa ini. Dikatakan kepada Imam Ahmad bahwa yang bertanya adalah dari Bani Hasyim. Lalu Imam Ahmad menghadap kepadanya dan berkata, bacalah firman Allah:

تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ ۖ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُم مَّا كَسَبْتُمْ ۖ وَلَا تُسْأَلُونَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ ﴿١٤١﴾

“Itu adalah umat yang telah lalu; baginya apa yang diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan; dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-Baqarah[2]: 141) radiorodja.com

Sumber: Syiahindonesia.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here